Pengalaman tersebut mendorong Lea untuk memperluas perspektif. Ia kemudian mengikuti workshop bersama dosen-dosen PWK ITB serta terjun langsung ke Kampung Lebak Siliwangi untuk melakukan wawancara dan pemetaan.
Dari proses tersebut, ketertarikannya terhadap kampung sebagai bentuk permukiman semakin menguat.
“Permukiman manusia berawal dari kampung. Bahkan di kota besar sekalipun, kampung masih tetap ada dan menjadi entitas yang unik,” tuturnya.
Lea kemudian menelusuri asal-usul kampung-kampung di berbagai kota di Pulau Jawa yang umumnya berkembang dari kawasan sungai menuju permukiman.
Menurutnya, sungai memiliki peran penting sebagai penghubung wilayah pesisir dan daratan.
Dari penelusuran tersebut, Kampung Sewu di Solo menarik perhatiannya sebagai objek penelitian. Kampung ini berada di antara Bengawan Solo dan Kali Pepe, dua sungai yang pada masa lalu menghubungkan Kota Solo dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Pulau Jawa.
“Dari situ saya mulai mengembangkan tesis mengenai Kampung Sewu,” katanya.
Pada masa lampau, Kampung Sewu merupakan salah satu bandar penting yang menghubungkan kawasan kota dengan jalur sungai, lengkap dengan jembatan sebagai akses utama. Namun, seiring perubahan moda transportasi, fungsi bandar tersebut perlahan memudar.
Melalui risetnya, Lea menilai banyak kampung di Indonesia memiliki kekayaan sejarah, budaya, serta identitas lokal yang khas. Ia berupaya merumuskan pendekatan yang dapat diterapkan di kampung-kampung lain agar nilai-nilai tersebut tetap terjaga.
Usai menyelesaikan studi magisternya, Lea berencana kembali ke dunia profesional. Menurutnya, pengalaman praktik akan selalu membuka peluang untuk kembali ke ranah akademik di masa depan.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
