Tangis Histeris Pecah di Teheran: Lautan Manusia Ratapi Kepergian Ayatollah Ali Khamenei

Rizky Agustian, Vitrianda
Minggu pagi di seluruh penjuru Iran saat ribuan warga tumpah ruah ke jalanan untuk meratapi kepergian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Facebook

TEHERAN, iNewsCirebon.id — Isak tangis yang menyayat hati memecah keheningan Minggu pagi di seluruh penjuru Iran saat ribuan warga tumpah ruah ke jalanan untuk meratapi kepergian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

Suasana duka yang teramat dalam menyelimuti bangsa ini setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel merenggut nyawa sosok yang telah menjadi kompas spiritual mereka selama puluhan tahun.

Di Lapangan Enghelab, Teheran, pemandangan memilukan terlihat jelas saat para perempuan bersimpuh di aspal dengan air mata yang terus mengalir, seolah tak percaya bahwa pemimpin mereka telah tiada dalam tragedi berdarah tersebut.

Kesedihan yang tak terbendung juga terekam di pusat spiritual bangsa, Makam Imam Reza di Mashhad. Di bawah kubah emas yang megah, para pendukung setia Khamenei larut dalam ratapan massal, beberapa di antaranya bahkan jatuh pingsan dan ambruk ke lantai karena syok yang teramat berat.

Suara doa yang bercampur dengan isak tangis menggema di koridor-koridor suci, menciptakan suasana mencekam sekaligus mengharukan yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern Republik Islam tersebut.

Gelombang pelayat juga membanjiri kota bersejarah Isfahan, di mana ribuan orang berkumpul di Lapangan Naqsh-e Jahan untuk memberikan penghormatan terakhir. Video yang beredar menunjukkan lautan manusia yang bergerak dalam duka kolektif, membawa foto sang pemimpin seraya menyuarakan kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan.

Di setiap sudut kota, mulai dari Teheran hingga wilayah pelosok, rakyat Iran seolah kehilangan arah, bersatu dalam rasa kehilangan yang sangat personal terhadap sosok yang mereka anggap sebagai pelindung bangsa.

Menanggapi duka nasional yang luar biasa ini, pemerintah Iran secara resmi menetapkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional untuk memberikan ruang bagi rakyat menyatakan rasa kehilangan mereka. Seluruh negeri kini seolah berhenti berdetak.

Bendera-bendera dikibarkan setengah tiang, dan stasiun televisi pemerintah terus menyiarkan lantunan ayat suci serta rekaman kenangan sang Ayatollah. Di tengah ketidakpastian politik yang membayangi, satu hal yang pasti, luka yang ditinggalkan oleh kematian Khamenei telah menggores hati jutaan rakyat Iran dengan sangat dalam.

Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network