BANDUNG, iNewsCirebon.id – Aprilea Sofiastuti Ariadi, yang akrab disapa Lea, berhasil meraih predikat wisudawati Magister Terbaik Institut Teknologi Bandung (ITB).
Lulusan asal Semarang ini mengangkat topik tesis yang berangkat dari pengalaman profesional, kompetisi desain, hingga ketertarikannya pada kampung sebagai entitas permukiman yang unik.
Lea merupakan alumnus S1 Universitas Diponegoro dan sempat meniti karier di sebuah biro arsitektur di Kota Bandung.
Selama menempuh pendidikan Magister Arsitektur di Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, ia terlibat dalam berbagai proyek publik, mulai dari perancangan alun-alun hingga pembangunan perpustakaan.
Selama sekitar lima tahun berkecimpung di dunia profesional, Lea merasakan besarnya tanggung jawab dalam menangani proyek-proyek yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dari pengalaman itulah muncul dorongan untuk memperdalam keilmuan.
“Kalau dari saya pribadi, ingin belajar lebih banyak agar bisa memberi lebih banyak,” ujarnya, dikutip dari laman UGM, Senin (12/1/2026).
Selain dorongan personal, tuntutan pendidikan lanjutan untuk memperoleh legalitas profesi arsitek juga menjadi alasan Lea melanjutkan studi magister di ITB.
Kembali ke dunia akademik memberinya pengalaman yang berbeda dibandingkan dunia kerja.
Menurut Lea, ruang akademik menawarkan kebebasan dalam mengeksplorasi gagasan dengan bimbingan dosen, sementara praktik profesional kerap dibatasi faktor eksternal seperti anggaran dan kebutuhan klien.
Selama masa studi, Lea memperoleh banyak pengalaman berharga, termasuk berdiskusi dengan mahasiswa lintas angkatan yang dinilainya memiliki ide dan referensi yang segar.
Ia juga berkesempatan mengikuti sejumlah studio bersama mahasiswa pertukaran (exchange student), yang memperkaya pengalaman kolaborasi lintas budaya dan sudut pandang.
Perjalanan menuju topik tesisnya bermula saat mengikuti kompetisi desain di Singapura. Dalam ajang tersebut, Lea ditantang merancang sebuah pulau berskala besar dengan tujuan menghidupkan kembali nilai kehangatan dan humanisme melalui arsitektur.
“Itu skalanya sangat besar dan seharusnya melibatkan pendekatan multidisiplin, seperti rancang kota dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Namun saat itu, tim kami hanya dari arsitektur, sehingga fokus desainnya pada aspek arsitektural,” jelasnya.
Pengalaman tersebut mendorong Lea untuk memperluas perspektif. Ia kemudian mengikuti workshop bersama dosen-dosen PWK ITB serta terjun langsung ke Kampung Lebak Siliwangi untuk melakukan wawancara dan pemetaan.
Dari proses tersebut, ketertarikannya terhadap kampung sebagai bentuk permukiman semakin menguat.
“Permukiman manusia berawal dari kampung. Bahkan di kota besar sekalipun, kampung masih tetap ada dan menjadi entitas yang unik,” tuturnya.
Lea kemudian menelusuri asal-usul kampung-kampung di berbagai kota di Pulau Jawa yang umumnya berkembang dari kawasan sungai menuju permukiman.
Menurutnya, sungai memiliki peran penting sebagai penghubung wilayah pesisir dan daratan.
Dari penelusuran tersebut, Kampung Sewu di Solo menarik perhatiannya sebagai objek penelitian. Kampung ini berada di antara Bengawan Solo dan Kali Pepe, dua sungai yang pada masa lalu menghubungkan Kota Solo dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Pulau Jawa.
“Dari situ saya mulai mengembangkan tesis mengenai Kampung Sewu,” katanya.
Pada masa lampau, Kampung Sewu merupakan salah satu bandar penting yang menghubungkan kawasan kota dengan jalur sungai, lengkap dengan jembatan sebagai akses utama. Namun, seiring perubahan moda transportasi, fungsi bandar tersebut perlahan memudar.
Melalui risetnya, Lea menilai banyak kampung di Indonesia memiliki kekayaan sejarah, budaya, serta identitas lokal yang khas. Ia berupaya merumuskan pendekatan yang dapat diterapkan di kampung-kampung lain agar nilai-nilai tersebut tetap terjaga.
Usai menyelesaikan studi magisternya, Lea berencana kembali ke dunia profesional. Menurutnya, pengalaman praktik akan selalu membuka peluang untuk kembali ke ranah akademik di masa depan.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
