Keduanya, lanjut dia, memiliki kesamaan pandangan mengenai urgennya menghidupkan kembali NU melalui penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, pendidikan berkualitas, dan kaderisasi yang terstruktur. Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli sepakat bahwa pendidikan adalah kunci utama (kaderisasi) untuk mencetak kader NU yang tidak hanya mumpuni secara keagamaan, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal tersebut bukan sekadar retorika; Kiai Asep melalui Pesantren Amanatul Ummah dan Kiai Imam Jazuli melalui Pesantren Bina Insan Mulia telah terbukti konsisten mencetak generasi muda yang berdaya saing global.
"Saatnya NU tidak cukup hanya ngurusi orang meninggal, mulai dari talqin, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga haul. Itu penting, tapi yang mendesak adalah ngurusi yang masih hidup," ujar Dasuki mengutip ungkapan Kiai Imam dalam sambutan pertemuan tersebut yang dinilai berapi-api di depan kader Pergunu, ketika menakar masa depan NU.
Statemen ini, menurut Dasuki, menekankan bahwa NU harus berfokus pada peningkatan SDM yang mampu bersaing, peningkatan taraf ekonomi warga, serta penguatan pola pikir yang modern namun tetap santun. Dengan menyiapkan kader yang unggul, diharapkan NU mampu bertransformasi. Tidak hanya kuat di struktur keagamaan, tetapi juga siap secara sosial-politik dan berdaulat secara ekonomi.
“Sinergi antara Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli menjadi jawaban atas kebutuhan NU di Muktamar ke-35 nanti: sebuah transformasi dari jam'iyah yang lebih sering hanya fokus pada tradisi ritual menjadi penggerak peradaban, pendidikan, dan ekonomi umat,” katanya.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
