Terlepas dari identitas pria dalam video tersebut, kasus yang menimpa Parera dinilai mengikuti skema yang sama dengan berbagai skandal digital lainnya.
Modusnya diawali dari layanan video call dewasa yang memang ditawarkan secara eksklusif dan berbayar oleh sebagian kreator konten. Permasalahan muncul ketika lawan bicara diduga merekam sesi tersebut secara diam-diam tanpa persetujuan.
Rekaman itu kemudian disebarkan dan dimanfaatkan sebagai komoditas untuk meraup keuntungan pribadi. Konten ilegal semacam ini umumnya diedarkan melalui aplikasi pesan instan seperti Telegram, media sosial X, hingga layanan penyimpanan berbasis cloud.
Akses terhadap konten tersebut tidak diberikan secara gratis. Penonton diwajibkan membayar, baik melalui sistem langganan maupun pembayaran satu kali untuk bergabung dalam grup khusus berlabel “VIP”.
Skema ini menyebabkan korban mengalami kerugian ganda. Selain kehilangan privasi dan menghadapi tekanan psikologis, mereka juga dirugikan secara finansial karena konten yang seharusnya bersifat pribadi justru dimonetisasi oleh pihak lain tanpa izin.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
