CIREBON, iNewsCirebon.id — Tahun Baru Imlek tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga sebagai momen memperkuat hubungan keluarga, refleksi diri, serta menumbuhkan harapan baru. Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki keselarasan dengan budaya masyarakat Nusantara, khususnya di Kota Cirebon yang sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan beragam tradisi.
Pengamat budaya Tionghoa Cirebon, Hetta Mahendrati Latumeten, menjelaskan bahwa esensi Imlek mencakup rasa syukur atas perjalanan hidup setahun terakhir sekaligus tekad memperbaiki diri di tahun yang akan datang.
“Dalam tradisi Imlek terdapat nilai bakti kepada orang tua dan penghormatan kepada leluhur yang juga kuat dalam budaya Jawa maupun Sunda. Tradisi berkumpul keluarga atau pulang kampung pun bukan milik satu kelompok saja, melainkan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia secara luas. Begitu juga dengan angpao, yang lebih menekankan makna doa dan kebaikan dibandingkan materi,” ujarnya.
Ia menuturkan, hubungan budaya Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung jauh sebelum kedatangan armada pelaut legendaris Cheng Ho. Interaksi perdagangan melalui jalur laut menjadi pintu masuk pertukaran budaya yang kemudian berkembang hingga masa penyebaran Islam di pesisir Jawa.
Di Cirebon, akulturasi itu tampak nyata melalui kisah sejarah Sunan Gunung Jati yang menikah dengan Putri Ong Tien. Perpaduan budaya tersebut membentuk karakter masyarakat yang terbuka serta penuh toleransi. Jejaknya dapat dilihat pada ornamen naga, keramik Tiongkok, hingga arsitektur di kawasan keraton seperti Keraton Kasepuhan dan area sekitar makam Sunan Gunung Jati.
“Budaya Tionghoa di Cirebon bukan unsur asing, melainkan bagian dari perjalanan sejarah kota. Akulturasi ini justru memperkaya identitas daerah,” katanya.
Hetta juga menyinggung perubahan besar dalam ruang ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia. Jika pada masa lalu perayaan Imlek dilakukan terbatas dan simbol budaya sempat dibatasi, kini masyarakat dapat mengekspresikan tradisi secara terbuka. Pemerintah pun memberikan ruang melalui penataan kawasan Pecinan, penggunaan aksara Mandarin, hingga pengembangan bangunan berciri budaya sebagai daya tarik wisata.
Menurutnya, dukungan pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda mencerminkan komitmen membangun kota yang harmonis dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Nilai menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, dan menghargai leluhur sebenarnya bersifat universal. Banyak masyarakat lintas etnis turut mempraktikkan nilai tersebut. Identitas budaya bukan penghalang, tetapi kontribusi untuk bangsa,” ujarnya.
Ia juga melihat kawasan Pecinan Cirebon memiliki potensi besar sebagai pusat wisata budaya di masa depan. Festival Imlek dan Cap Go Meh berskala nasional dinilai mampu menggerakkan sektor UMKM, kuliner, kerajinan, hingga ekonomi kreatif yang membuka peluang kerja bagi generasi muda.
“Sekarang bukan lagi masa bersembunyi, tetapi masa menunjukkan kontribusi nyata. Negara sudah memberi ruang, pemerintah membuka kesempatan. Tinggal bagaimana masyarakat memanfaatkannya untuk pembangunan,” katanya.
Hetta pun mengajak masyarakat menjaga semangat kebersamaan di tengah keberagaman.
“Cirebon adalah kota sejarah dan pertemuan budaya. Sudah saatnya warisan itu dijadikan kekuatan ekonomi sekaligus perekat persatuan. Mari membangun tanpa rasa takut, bersinergi tanpa prasangka, serta menghormati masa lalu untuk masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
