Eksistensi di Balik Tabir dan Fleksibilitas Operator
Unit ini bermarkas di lokasi yang sangat terjaga di Fort Liberty, North Carolina, yang sering disebut oleh para penghuninya sebagai "The Stockade". Berbeda dengan unit militer konvensional atau bahkan Green Berets dan Army Rangers, Delta Force beroperasi di bawah naungan Joint Special Operations Command (JSOC) sebagai unit Tier 1.
Keunikan utama dari para operator Delta Force adalah kemampuan mereka untuk membaur secara sempurna dengan lingkungan sipil. Mereka sering diizinkan memiliki rambut panjang, jenggot, dan berpakaian layaknya warga setempat agar dapat beroperasi di wilayah musuh tanpa terdeteksi sebagai personel militer. Taktik ini, yang dikenal sebagai relaxed grooming standards, membuat mereka menjadi hantu yang sulit dilacak oleh intelijen lawan.
Dari Kegagalan Iran Hingga Keberhasilan di Somalia
Perjalanan sejarah Delta Force tidak selalu dimulai dengan kesuksesan yang mulus. Misi besar pertama mereka, Operasi Eagle Claw pada tahun 1980 yang bertujuan menyelamatkan sandera di Kedutaan Besar AS di Iran, berakhir dengan kegagalan tragis di gurun karena badai pasir dan kecelakaan teknis. Namun, kegagalan ini menjadi titik balik krusial yang memicu modernisasi besar-besaran dalam komando operasi khusus Amerika, termasuk pembentukan resimen helikopter Night Stalkers yang menjadi mitra setia mereka.
Sejak saat itu, Delta Force terus mengukir prestasi dalam operasi-operasi paling berbahaya, mulai dari pertempuran sengit di jalanan Mogadishu pada tahun 1993 yang dikenal sebagai peristiwa Black Hawk Down, hingga penangkapan Manuel Noriega di Panama yang menjadi preseden bagi operasi penangkapan kepala negara di masa depan.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
