Sementara itu, GERD merupakan gangguan pencernaan akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan. Kondisi ini umumnya menimbulkan sensasi panas atau terbakar di dada, terutama setelah makan atau saat berbaring. Penderita GERD juga kerap merasakan rasa asam atau pahit di mulut, perut kembung, serta sering bersendawa.
Nyeri akibat GERD biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan dan posisi tubuh, serta cenderung membaik setelah mengonsumsi obat penetral asam lambung. Berbeda dengan serangan jantung, nyeri GERD umumnya tidak menjalar ke lengan atau rahang.
Perbedaan lain dapat dilihat dari respons terhadap pengobatan. Nyeri dada akibat GERD sering mereda dengan antasida, sedangkan nyeri akibat serangan jantung tidak membaik meski sudah beristirahat atau minum obat lambung.
Menurut Dr.dr. Vito A Damay, SpJp (k), M.kes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC melalui akun instagramnya @doktervito menjelaskan GERD bisa terasa seperti masalah jantung dikarenakan letak anatomis esofagus dan jantung berdampingan sehinga dapat menimbulkan gejala yang hampir mirip.
Selain itu, jalur saraf yang bernama saraf vagus juga sama dimana refluks asam bisa memicu rasa tidak nyaman di dada.
Pada sebagian orang penderita GERD merasakan berdebar-debar, hal ini dikarenakan respons otonom dan inflamasi ringan.
Dokter Vito menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hubungan fungsional dan sensorik, bukan kerusakan jantung. Sementara serangan jantung terjadi karena sumbatan pembuluh darah jantung bukan karena asam lambung.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung, tidak menyebabkan jantung membesar dan tidak menyebabkan henti jantung.
Bagaimanapun kondisinya, masyarakat diharapkan untuk tidak mengabaikan keluhan nyeri dada. Jika nyeri terasa berat, berlangsung lama, atau disertai sesak napas dan keringat dingin, pemeriksaan medis segera sangat dianjurkan untuk memastikan penyebabnya dan mencegah risiko yang lebih serius.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
