Seleksi Pasukan Khusus Delta Force Penyaringan Paling Brutal di Dunia

Vitrianda Hilba Siregar
Menjadi bagian dari 1st SFOD-D atau Delta Force bukanlah tentang sekadar memiliki otot yang kuat, melainkan tentang ketangguhan mental yang mampu menembus batas rasa sakit. Foto: Freepik

JAKARTA, iNewsCirebon.id -  Dunia baru saja dikejutkan oleh operasi kilat penangkapan Nicolas Maduro di Caracas, namun di balik kesuksesan itu, ada proses pendidikan yang melampaui batas kewarasan manusia.

Menjadi bagian dari 1st SFOD-D atau Delta Force bukanlah tentang sekadar memiliki otot yang kuat, melainkan tentang ketangguhan mental yang mampu menembus batas rasa sakit, ketangguhan mental yang melampaui batas kewarasan manusia.

Proses ini merupakan perjalanan sunyi yang hanya bisa ditempuh oleh mereka yang sudah membuktikan diri di unit elit lain seperti Army Rangers atau Green Berets. Tidak ada warga sipil yang bisa langsung mendaftar; unit ini hanya mencari "pemangsa" yang sudah teruji di medan tempur.

Mereka harus memiliki skor kecerdasan di atas rata-rata serta catatan disiplin yang tanpa celah sebelum akhirnya diizinkan menginjakkan kaki di tanah seleksi yang legendaris di Camp Dawson, West Virginia.

Penyaringan Fisik dan Navigasi Darat Solo

Tahap awal seleksi dirancang untuk menghancurkan fisik kandidat secara sistematis melalui ujian navigasi darat yang dikenal sangat kejam di pegunungan Appalachian. Para prajurit ini dilepas sendirian di tengah hutan yang terjal, membawa ransel seberat puluhan kilogram tanpa bantuan teknologi modern seperti GPS atau telepon genggam.

Mereka hanya dibekali peta kuno dan kompas, serta harus mencapai titik-titik koordinat dalam batas waktu yang dirahasiakan oleh para instruktur. Hal ini menciptakan tekanan mental yang luar biasa karena kandidat tidak pernah tahu apakah kecepatan mereka sudah cukup atau mereka sebenarnya sudah gagal sejak titik pertama.

The Long Walk: Ujian Akhir Tekad Baja

Puncak dari penderitaan fisik ini adalah sebuah fase yang disebut sebagai The Long Walk. Ini adalah perjalanan jalan kaki sejauh 64 kilometer di medan yang sangat ekstrem dengan beban yang kian bertambah. Ujian ini bukan hanya tes stamina, tetapi tes kejujuran terhadap diri sendiri di tengah kesunyian hutan.

Saat raga sudah tidak mampu lagi melangkah dan kaki mulai berdarah, hanya tekad baja yang bisa membuat mereka tetap bergerak maju. Instruktur tidak memberikan instruksi tambahan atau penyemangat; kandidat harus menemukan motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk mencapai garis finis yang seolah tidak berujung.

Interogasi Psikologis di Hadapan Panel Komandan

Setelah melewati neraka fisik, kandidat yang masih bertahan harus berhadapan dengan panel psikologis yang seringkali jauh lebih mengintimidasi daripada mendaki gunung. Di dalam sebuah ruangan tertutup, mereka akan dibombardir dengan pertanyaan tajam oleh para perwira senior, psikolog militer, dan operator veteran.

Di sini, segala bentuk kesombongan atau kepalsuan akan langsung dihancurkan. Tim penilai mencari sosok yang tenang, cerdas secara emosional, dan mampu berpikir jernih saat detak jantung mereka berada di ambang batas maksimal.

Banyak prajurit yang memiliki fisik bak pahlawan film aksi justru gagal di tahap ini karena dianggap tidak memiliki stabilitas mental yang diperlukan untuk membawa misi rahasia negara.

Operator Training Course: Menempa Hantu di Medan Laga

Kandidat yang tersisa, yang jumlahnya biasanya hanya sekitar sepuluh persen dari total pendaftar awal, kemudian memasuki fase Operator Training Course (OTC) selama enam bulan.

Dalam pendidikan ini, mereka tidak lagi dilatih sebagai tentara konvensional, melainkan sebagai spesialis yang mampu membaur di keramaian kota mana pun di dunia.

Mereka mempelajari teknik menembak presisi tingkat tinggi atau marksmanship, di mana mereka harus menembak sasaran yang berada tepat di samping rekan mereka sendiri yang berperan sebagai sandera.

Latihan ini bertujuan untuk membangun kepercayaan mutlak antar anggota tim yang akan sangat krusial dalam situasi hidup dan mati.

Spionase dan Penguasaan Teknologi Mutakhir

Selain kemampuan tempur jarak dekat, para calon operator ini dididik dalam seni spionase, teknik membobol kunci, serta penggunaan bahan peledak khusus untuk penetrasi bangunan. Mereka juga dilatih teknik mengemudi taktis dalam kecepatan tinggi dan cara mengoperasikan teknologi siluman yang belum diketahui publik.

Keberhasilan mereka dalam menembus kediaman Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang terjaga ketat adalah bukti nyata dari kurikulum pendidikan mereka yang mengutamakan kecepatan, kejutan, dan kekerasan aksi yang terukur. Setelah lulus, mereka bukan lagi sekadar tentara; mereka adalah bayangan yang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network