Memayu Buyut Trusmi, Merawat Warisan Leluhur Lewat Tradisi Ganti Welit dan Arak-arakan Budaya
CIREBON, iNewsCirebon.id– Aroma tradisi dan kearifan leluhur kembali menyelimuti Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon. Masyarakat setempat menggelar tradisi Memayu Buyut Trusmi, sebuah warisan budaya yang tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga sarat makna tentang penghormatan kepada leluhur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu berlangsung meriah pada Minggu (1/11/2026). Rangkaian kegiatan diwarnai arak-arakan budaya yang menampilkan beragam simbol tradisi, mulai dari ogoh-ogoh, kesenian daerah, iring-iringan sesepuh desa, hingga hasil bumi sebagai gambaran rasa syukur masyarakat atas anugerah alam.
Arak-arakan dimulai dari Masjid Trusmi, kemudian menyusuri Jalan Syekh Daful Kahfi, Jalan Otto Iskandardinata, dan Jalan Panembahan Ratu sebelum kembali ke kawasan Masjid Trusmi.
Sepanjang perjalanan, masyarakat disuguhi beragam ekspresi budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Trusmi. Setiap unsur dalam arak-arakan memiliki tempat tersendiri dalam rangkaian adat, sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi leluhur bukan sekadar seremoni, melainkan warisan nilai yang terus dijaga.
Kuwu Desa Trusmi Wetan, Anidi, menjelaskan Memayu Buyut Trusmi memiliki sejumlah prosesi khas yang dipertahankan hingga sekarang. Di antaranya iring-iringan kuda, sesepuh desa, Tari Babak Yakso, ogoh-ogoh, hasil bumi, hingga prosesi lamaran.
"Setiap rangkaian memiliki makna dan menjadi bagian dari tradisi yang sudah diwariskan sejak dahulu. Termasuk rute arak-arakan yang hingga kini tetap mengikuti jalur yang telah ditetapkan para leluhur," ujar Anidi.
Editor: Rebecca