Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Sekadar Serabi, Festival Merah Putih Kesambi Jadi Panggung Kekompakan Warga
Advertisement . Scroll to see content

Memayu Buyut Trusmi, Merawat Warisan Leluhur Lewat Tradisi Ganti Welit dan Arak-arakan Budaya

Senin, 02 November 2026 | 10:14 WIB
  • author Riant Subekti
Memayu Buyut Trusmi, Merawat Warisan Leluhur Lewat Tradisi Ganti Welit dan Arak-arakan Budaya
Bagi masyarakat Trusmi, ganti welit mengandung filosofi tentang pembaruan, kepedulian terhadap warisan leluhur, sekaligus penanda pergantian musim menuju datangnya musim penghujan. Foto : Istimewa

CIREBON, iNewsCirebon.id– Aroma tradisi dan kearifan leluhur kembali menyelimuti Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon. Masyarakat setempat menggelar tradisi Memayu Buyut Trusmi, sebuah warisan budaya yang tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga sarat makna tentang penghormatan kepada leluhur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu berlangsung meriah pada Minggu (1/11/2026). Rangkaian kegiatan diwarnai arak-arakan budaya yang menampilkan beragam simbol tradisi, mulai dari ogoh-ogoh, kesenian daerah, iring-iringan sesepuh desa, hingga hasil bumi sebagai gambaran rasa syukur masyarakat atas anugerah alam.

Arak-arakan dimulai dari Masjid Trusmi, kemudian menyusuri Jalan Syekh Daful Kahfi, Jalan Otto Iskandardinata, dan Jalan Panembahan Ratu sebelum kembali ke kawasan Masjid Trusmi.

Sepanjang perjalanan, masyarakat disuguhi beragam ekspresi budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Trusmi. Setiap unsur dalam arak-arakan memiliki tempat tersendiri dalam rangkaian adat, sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi leluhur bukan sekadar seremoni, melainkan warisan nilai yang terus dijaga.

Kuwu Desa Trusmi Wetan, Anidi, menjelaskan Memayu Buyut Trusmi memiliki sejumlah prosesi khas yang dipertahankan hingga sekarang. Di antaranya iring-iringan kuda, sesepuh desa, Tari Babak Yakso, ogoh-ogoh, hasil bumi, hingga prosesi lamaran.

"Setiap rangkaian memiliki makna dan menjadi bagian dari tradisi yang sudah diwariskan sejak dahulu. Termasuk rute arak-arakan yang hingga kini tetap mengikuti jalur yang telah ditetapkan para leluhur," ujar Anidi.

Tahun ini, rangkaian Memayu Buyut Trusmi berlangsung mulai 31 Oktober hingga 9 November 2026. Salah satu prosesi yang menjadi perhatian utama adalah ganti welit atau penggantian atap rumbia di kawasan Masjid Trusmi.

Prosesi yang dilaksanakan pada puncak tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan mengganti bagian atap bangunan. Bagi masyarakat Trusmi, ganti welit mengandung filosofi tentang pembaruan, kepedulian terhadap warisan leluhur, sekaligus penanda pergantian musim menuju datangnya musim penghujan.

Pada masa lalu, kedatangan musim hujan memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat agraris, terutama sebagai penanda dimulainya masa tanam. Karena itu, prosesi ganti welit juga menjadi simbol kesiapan masyarakat menyambut siklus alam dan kehidupan.

"Setiap tahun, penggantian atap rumbia atau ganti welit menjadi bentuk tradisi menyambut musim penghujan. Dahulu, ini juga dikenal sebagai penanda menyambut masa tanam," tutur Anidi.

Tidak hanya menghadirkan ritual adat, Memayu Buyut Trusmi juga menjadi ruang hidup bagi kesenian tradisional. Berbagai pertunjukan seperti wayang, sandiwara, sintren, hingga hiburan rakyat turut memeriahkan rangkaian kegiatan.

Menariknya, sejumlah kelompok kesenian bersedia tampil secara sukarela tanpa mengharapkan bayaran. Bagi mereka, keterlibatan dalam Memayu merupakan bentuk pengabdian sekaligus upaya menjaga keberlangsungan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

"Biasanya pemilik kelompok kesenian akan rela tampil dengan alasan ngalap berkah," ungkapnya.

Lebih dari sekadar perayaan, Memayu Buyut Trusmi menjadi ruang pertemuan antara sejarah, adat istiadat, kesenian, dan kehidupan sosial masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai leluhur tetap dirawat di tengah perubahan zaman.

Anidi berharap, masyarakat tidak hanya memandang Memayu sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga setiap nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, agar warisan budaya Trusmi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Sebab, selama tradisi masih dijalankan, nilai-nilai leluhur tetap memiliki ruang untuk hidup. Memayu Buyut Trusmi pun menjadi pengingat bahwa identitas budaya bukan hanya tentang apa yang diwariskan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah generasi merawat dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Editor: Rebecca

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut