Viral Pernyataan soal GERD, Ini Profil dr Bobby Arfhan Anwar yang Disorot Netizen
CIREBON, iNewsCirebon.id - Nama dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, mendadak menjadi perbincangan publik setelah pernyataannya di media sosial tentang hubungan antara penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan sakit jantung memicu gelombang reaksi dari netizen.
Polemik bermula ketika dr. Bobby, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, menyampaikan bahwa GERD tidak menyebabkan penyakit jantung meskipun beberapa gejalanya, seperti nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar, sering disalahpahami oleh masyarakat sebagai gejala kardiovaskular.
“GERD ga bikin sakit jantung. Udah itu aja” unggahnya di platform media sosial.
Unggahan itu justru mendapatkan respons keras dari sejumlah warganet. Ada yang mempertanyakan keahliannya bahkan meminta sang dokter “belajar lagi” karena merasa pengalaman pribadi atau asumsi populer lebih relevan daripada edukasi medis.
dr. Bobby Arfhan Anwar adalah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang telah menempuh pendidikan dokter umum di Universitas Trisakti dan pendidikan spesialis di Universitas Andalas. Ia juga tercatat sebagai Fellow of Indonesian Heart Association (FIHA), sebuah gelar kehormatan yang menunjukkan pengakuan atas kompetensinya di bidang kardiologi.
Sebagai praktisi kardiologi, dr. Bobby memiliki pengalaman klinis dalam menangani berbagai kondisi jantung, termasuk serangan jantung akut, penyempitan pembuluh darah jantung, serta prosedur diagnostik dan terapi seperti EKG, ekokardiografi, kateterisasi jantung, dan pemasangan stent. Ia tercatat pernah berpraktik di sejumlah rumah sakit besar seperti RS Hermina Depok dan RSU Bunda Margonda.
Kontroversi ini juga terkait dengan berkembangnya perbincangan publik soal kematian selebgram Lula Lahfah, yang diketahui memiliki riwayat GERD namun meninggal akibat henti jantung. Banyak warganet mencoba mengaitkan kondisi lambung ini dengan penyebab kematian jantung, padahal penjelasan medis menunjukkan kedua hal itu tidak berhubungan langsung.
Menurut dr. Bobby, gejala seperti nyeri dada atau jantung berdebar pada penderita GERD sering disebabkan oleh posisi organ tubuh dan reaksi tubuh terhadap nyeri, bukan karena adanya gangguan jantung. Edukasi ini juga didukung oleh banyak ahli medis lain yang menegaskan bahwa GERD tidak termasuk faktor risiko penyakit jantung.
Meskipun mendapat kritik, dr. Bobby tetap berupaya memberikan penjelasan yang berbasis bukti medis kepada publik, terutama di tengah maraknya misinformasi kesehatan di media sosial.
Editor : Rebecca