Keraton Kasepuhan Cirebon Gelar Tradisi Rajaban, Peringati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Rangkaian acara Rajaban diisi dengan tausiah keagamaan yang mengulas makna Isra Mi’raj, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Dalam kesempatan tersebut, Patih Sepuh juga mengingatkan umat Islam agar tidak melupakan peristiwa besar yang menjadi dasar diwajibkannya salat lima waktu.
“Sebagai umat muslim, kita jangan sampai melupakan Isra Mi’raj, karena di situlah perintah salat lima waktu diturunkan sebagai kewajiban utama,” tegasnya.
Selain prosesi keagamaan, tradisi Rajaban di Keraton Kasepuhan juga ditandai dengan penyajian nasi bugana. Hidangan sederhana yang terdiri dari nasi, kentang, tahu, tempe, serta parutan kelapa itu memiliki makna filosofis sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
“Maknanya sebetulnya adalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT, dengan menyajikan hidangan sebagai bentuk kebersamaan dan doa,” pungkas Patih Sepuh.
Tradisi Rajaban hingga kini terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya Keraton Kasepuhan Cirebon, yang memadukan nilai religi, sejarah, dan kearifan lokal.
Editor : Rebecca