Petani Garam Tidak Dapat Hidup Lagi, Berharap Ada Perhatian Pemerintah

Dede Kurniawan
.
Jum'at, 08 Oktober 2021 | 12:20 WIB
Foto bersama KSP Muldoko dengan petani garam (foto : Dede Kurniawan)

KABUPATEN CIREBON, iNews.id - Ratusan petani garam di wilayah Cirebon Utara yang berasal dari Kecamatan Suranenggala dan Kecamatan Kapetakan, terpaksa menghentikan produksi garam, lantaran harga garam ditingkat petani cukup memprihatinkan. Sehingga tidak menutup biaya operasional untuk produksi.

Selain harga yang jatuh, petani garam di wilayah Kapetakan juga mengeluhkan sarana dan prasarana yang ada saat ini kondisinya rusak parah, sehingga berimbas pada penurunan produksi garam.

Hal ini disampaikan oleh salah satu petani garam dari Cirebon Utara, Ade Wijaya, saat bertemu dengan KSP Moeldoko, di desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jumat (8/10/202).

"Untuk harga di tingkat petani, garam dari Cirebon Utara ini sebenarnya lebih parah harganya, garam kami hanya di hargai Rp 200 per Kg, sedangkan kualitas dari garam kami lebih baik se Cirebon," ujar Ade.

Ade juga mengatakan, saat ini petani garam di Cirebon Utara lebih banyak yang tidak berproduksi lantaran harga yang terlalu rendah ditambah akses jalan yang sulit dari tambak garam ke tempat penyimpanan.

"Jalan nya rusak, sedangkan untuk mengangkut hasil produksi garam dari tambak ke tempat penyimpanan juga jauh," terangnya.

Akibat banyaknya petani garam yang tidak produksi, dikatakan Ade, banyak alat-alat untuk produksi garam juga menjadi terbengkalai, ini juga menjadi kerugian bagi petani tambak sepeti dirinya. Ade berharap dengan kedatangan KSP Moeldoko bisa mendapatkan perhatian kembali dari pemerintah, sehingga petani garam di Cirebon Utara bisa bangkit kembali.

"Semoga apa yang kami sampaikan bisa direalisasikan secepatnya, sehingga petani bisa kembali memenuhi kebutuhan hidup nya sehari-hari," tambahnya.

 

Editor : Miftahudin
Bagikan Artikel Ini