CIREBON, iNewsCirebon.id– Derap langkah ratusan kuwu dari berbagai desa di Kabupaten Cirebon menyatu dalam sebuah perjalanan spiritual dan sejarah. Berbalut pakaian komprang serba hitam lengkap dengan iket kepala dan peci, mereka tidak sekadar melakukan ziarah, melainkan menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang sosok yang diyakini sebagai peletak dasar lahirnya Tanah Caruban, Mbah Kuwu Sangkan Cirebon.
Peringatan Haul Mbah Kuwu Sangkan ke-526, Rabu (15/7/2026), menjadi momentum bagi Forum Komunikasi Kuwu Kabupaten Cirebon (FKKC) untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan sang leluhur dalam membuka babad Tanah Caruban. Dengan mengusung tema "Gegunen Sifat Kang Finuji", seluruh rangkaian kegiatan sarat akan pesan budaya, sejarah, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Perjalanan dimulai dari Sekretariat FKKC menuju kompleks makam Mbah Kuwu Sangkan di Cirebon Girang, Kecamatan Talun. Di tempat yang sarat sejarah itu, doa dan tahlil dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang dikenal sebagai Ki Gedeng Alang, sosok yang membuka pemukiman awal di Lemahwungkuk hingga kelak berkembang menjadi Caruban atau Cirebon.
Rombongan kemudian melanjutkan ziarah ke Makbaroh Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati. Bersama Bupati Cirebon Imron Rosyadi, Wakil Bupati Agus Kurniawan, tokoh masyarakat, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Cirebon, para kuwu kembali memanjatkan doa sebagai ikhtiar memohon keberkahan bagi tanah yang diwariskan para leluhur.
Ketua Forum Komunikasi Kuwu Kabupaten Cirebon (FKKC), Muali, mengatakan haul bukan sekadar tradisi tahunan atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, haul merupakan pengingat bahwa perjalanan panjang Cirebon dibangun oleh para pendahulu yang mengedepankan pengabdian, persatuan, dan kepentingan masyarakat.
"Haul ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan Mbah Kuwu Sangkan dalam Bubak Sengka Tanah Caruban. Beliau bukan hanya membuka sebuah wilayah, tetapi juga meletakkan pondasi kehidupan bermasyarakat yang menjunjung persatuan, gotong royong, kejujuran, serta kepemimpinan yang mengayomi rakyat," ujar Muali.
Menurutnya, sifat-sifat luhur itulah yang harus terus hidup dalam diri setiap kuwu sebagai pemimpin desa. Seorang kuwu, kata Muali, bukan hanya menjalankan roda pemerintahan, tetapi menjadi pelayan masyarakat yang mampu menjaga keharmonisan, menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, serta mengutamakan kepentingan warga di atas kepentingan pribadi.
Ia berharap seluruh jajaran pemerintahan, khususnya para kuwu di Kabupaten Cirebon, menjadikan semangat perjuangan Mbah Kuwu Sangkan sebagai pedoman dalam membangun desa yang maju tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai kearifan lokal.
"Warisan terbesar Mbah Kuwu bukanlah bangunan atau kekuasaan, melainkan keteladanan. Semangat pengabdian, persatuan, kerukunan, dan gotong royong itulah yang harus terus diwariskan agar Kabupaten Cirebon menjadi daerah yang aman, makmur, dan sejahtera," katanya.
Bagi masyarakat Cirebon, nama Mbah Kuwu Sangkan tidak hanya tercatat dalam lembaran sejarah. Sosoknya menjadi simbol awal terbentuknya peradaban di Tanah Caruban. Dari wilayah yang dahulu masih berupa hutan dan rawa, lahirlah sebuah kawasan yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan penyebaran agama Islam di pesisir utara Jawa bersama Pangeran Cakrabuana hingga mencapai masa kejayaan pada era Sunan Gunung Jati.
Karena itu, setiap langkah ziarah yang dilakukan para kuwu bukan sekadar perjalanan menuju makam leluhur. Ia adalah perjalanan batin untuk kembali memahami akar jati diri Cirebon, bahwa kemajuan sebuah daerah tidak pernah lepas dari penghormatan terhadap sejarah dan keteladanan para pendahulunya.
Kuwu Desa Sirnabaya, Rawin, menilai kegiatan haul menjadi ruang mempererat persaudaraan antarkuwu sekaligus menguatkan komitmen dalam mengemban amanah masyarakat.
"Semoga kami semua diberikan kekuatan untuk menjaga amanah, mempererat silaturahmi, serta mampu meneladani kepemimpinan Mbah Kuwu Sangkan yang bijaksana, sederhana, rendah hati, dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Nilai-nilai itu harus tetap hidup di tengah perkembangan zaman," tuturnya.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Haul Mbah Kuwu Sangkan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan akar sejarah. Sebaliknya, sejarah harus menjadi cahaya yang menerangi langkah para pemimpin dalam membangun desa.
Melalui doa, ziarah, dan penghormatan kepada para leluhur, ratusan kuwu Kabupaten Cirebon menegaskan satu pesan penting: membangun masa depan akan selalu lebih kokoh apabila berpijak pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Dari Mbah Kuwu Sangkan, mereka belajar bahwa seorang pemimpin sejati bukan dikenang karena kekuasaannya, melainkan karena pengabdian dan manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat sepanjang zaman.
Apabila ditujukan untuk media massa, naskah ini sudah dibuat lebih bernuansa budaya, historis, dan reflektif, sehingga pembaca tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga diajak memahami makna perjuangan serta keteladanan Mbah Kuwu Sangkan dalam sejarah lahirnya Cirebon.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
