Tahun ini, rangkaian Memayu Buyut Trusmi berlangsung mulai 31 Oktober hingga 9 November 2026. Salah satu prosesi yang menjadi perhatian utama adalah ganti welit atau penggantian atap rumbia di kawasan Masjid Trusmi.
Prosesi yang dilaksanakan pada puncak tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan mengganti bagian atap bangunan. Bagi masyarakat Trusmi, ganti welit mengandung filosofi tentang pembaruan, kepedulian terhadap warisan leluhur, sekaligus penanda pergantian musim menuju datangnya musim penghujan.
Pada masa lalu, kedatangan musim hujan memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat agraris, terutama sebagai penanda dimulainya masa tanam. Karena itu, prosesi ganti welit juga menjadi simbol kesiapan masyarakat menyambut siklus alam dan kehidupan.
"Setiap tahun, penggantian atap rumbia atau ganti welit menjadi bentuk tradisi menyambut musim penghujan. Dahulu, ini juga dikenal sebagai penanda menyambut masa tanam," tutur Anidi.
Tidak hanya menghadirkan ritual adat, Memayu Buyut Trusmi juga menjadi ruang hidup bagi kesenian tradisional. Berbagai pertunjukan seperti wayang, sandiwara, sintren, hingga hiburan rakyat turut memeriahkan rangkaian kegiatan.
Menariknya, sejumlah kelompok kesenian bersedia tampil secara sukarela tanpa mengharapkan bayaran. Bagi mereka, keterlibatan dalam Memayu merupakan bentuk pengabdian sekaligus upaya menjaga keberlangsungan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
"Biasanya pemilik kelompok kesenian akan rela tampil dengan alasan ngalap berkah," ungkapnya.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
