Dekan Sekolah Farmasi ITB, Diky Mudhakir, memberikan apresiasi tinggi dan menilai kerja sama ini sebagai contoh ideal bagaimana riset kampus bisa diadopsi oleh dunia industri.
"Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendorong hilirisasi hasil riset, sehingga inovasi yang lahir di laboratorium dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia," ujarnya.
Bagi Maudy, langkah ini merupakan bagian dari visi besarnya untuk membawa kekayaan botanikal asli Indonesia ke kancah internasional lewat fondasi sains yang kuat.
"Kami percaya masa depan industri kecantikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan mengubahnya menjadi inovasi berbasis riset. Karena itu, kami memilih memulai dari laboratorium. PolyAcNix merupakan hasil kolaborasi bersama Sekolah Farmasi ITB dan EBM SciTech sekaligus langkah awal kami membangun intellectual property yang berasal dari Indonesia dan mampu bersaing di tingkat global," kata Maudy.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
