JAKARTA, iNewsCirebon.id - Delta Force, atau secara resmi dikenal sebagai 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D), merupakan instrumen kekuatan militer paling rahasia dan mematikan yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
Unit ini bukan sekadar sekumpulan tentara tangguh, melainkan instrumen kebijakan luar negeri yang bekerja di balik bayang-bayang. Keberhasilan mereka menangkap Nicolas Maduro di Caracas pada awal 2026 menjadi babak baru dalam sejarah panjang unit yang dirancang untuk melakukan misi-misi yang dianggap mustahil oleh militer konvensional.
Visi Kolonel Beckwith dan Warisan SAS Inggris
Lahirnya pasukan khusus Delta Force ini merupakan hasil dari ambisi dan visi seorang veteran perang Vietnam, Kolonel Charles Beckwith. Pada akhir tahun 1970-an, Beckwith menyadari bahwa militer Amerika Serikat memiliki celah besar dalam menangani ancaman terorisme global yang semakin canggih dan tak terduga.
Terinspirasi langsung dari sistem Special Air Service (SAS) milik Inggris tempat ia pernah bertugas sebagai perwira pertukaran, Beckwith mendirikan Delta Force pada 19 November 1977. Ia memimpikan sebuah unit yang tidak kaku, memiliki standar seleksi yang sangat ketat, dan berfokus pada kemandirian individu serta ketepatan eksekusi yang luar biasa di atas segalanya.
Eksistensi di Balik Tabir dan Fleksibilitas Operator
Unit ini bermarkas di lokasi yang sangat terjaga di Fort Liberty, North Carolina, yang sering disebut oleh para penghuninya sebagai "The Stockade". Berbeda dengan unit militer konvensional atau bahkan Green Berets dan Army Rangers, Delta Force beroperasi di bawah naungan Joint Special Operations Command (JSOC) sebagai unit Tier 1.
Keunikan utama dari para operator Delta Force adalah kemampuan mereka untuk membaur secara sempurna dengan lingkungan sipil. Mereka sering diizinkan memiliki rambut panjang, jenggot, dan berpakaian layaknya warga setempat agar dapat beroperasi di wilayah musuh tanpa terdeteksi sebagai personel militer. Taktik ini, yang dikenal sebagai relaxed grooming standards, membuat mereka menjadi hantu yang sulit dilacak oleh intelijen lawan.
Dari Kegagalan Iran Hingga Keberhasilan di Somalia
Perjalanan sejarah Delta Force tidak selalu dimulai dengan kesuksesan yang mulus. Misi besar pertama mereka, Operasi Eagle Claw pada tahun 1980 yang bertujuan menyelamatkan sandera di Kedutaan Besar AS di Iran, berakhir dengan kegagalan tragis di gurun karena badai pasir dan kecelakaan teknis. Namun, kegagalan ini menjadi titik balik krusial yang memicu modernisasi besar-besaran dalam komando operasi khusus Amerika, termasuk pembentukan resimen helikopter Night Stalkers yang menjadi mitra setia mereka.
Sejak saat itu, Delta Force terus mengukir prestasi dalam operasi-operasi paling berbahaya, mulai dari pertempuran sengit di jalanan Mogadishu pada tahun 1993 yang dikenal sebagai peristiwa Black Hawk Down, hingga penangkapan Manuel Noriega di Panama yang menjadi preseden bagi operasi penangkapan kepala negara di masa depan.
Perburuan Target Bernilai Tinggi dan Operasi Maduro
Kehebatan unit ini semakin diakui dunia melalui kemampuan mereka melacak target-target paling dicari di planet ini. Mereka adalah tim yang berhasil menarik Saddam Hussein dari lubang persembunyiannya di Irak pada tahun 2003, serta menjadi ujung tombak dalam penyerbuan kompleks Abu Bakr al-Baghdadi di Suriah pada tahun 2019.
Keberhasilan terbaru mereka dalam menangkap Nicolas Maduro menunjukkan evolusi teknologi yang luar biasa. Dalam operasi di Caracas tersebut, Delta Force mengintegrasikan serangan siber untuk melumpuhkan total jaringan komunikasi Venezuela dan menggunakan peralatan infiltrasi canggih yang mampu menembus perlindungan bunker baja kediaman kepresidenan dalam hitungan detik, sebuah pencapaian taktis yang melumpuhkan moral lawan sebelum mereka sempat melawan.
Proses Seleksi yang Melampaui Batas Manusia
Setiap operator yang terpilih masuk ke dalam Delta Force adalah prajurit yang telah melalui proses penyaringan yang hampir tidak manusiawi. Mereka tidak direkrut dari masyarakat umum, melainkan diambil dari personel terbaik di unit elit lainnya yang sudah berpengalaman tempur.
Tes seleksi mereka melibatkan perjalanan navigasi darat sejauh puluhan kilometer di medan pegunungan yang kasar dengan beban berat, tanpa bantuan peta yang memadai, kompas yang terbatas, dan instruksi yang minim. Ujian ini dirancang untuk menghancurkan fisik seseorang hingga ke titik nadir guna menguji ketangguhan mental serta kemampuan pengambilan keputusan dalam kondisi kelelahan ekstrem.
Hasil akhirnya adalah sebuah tim kecil yang mampu mengubah arah politik dunia hanya dalam satu malam operasi yang senyap.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
