Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Update Korban Keracunan MBG Cirebon: 228 Anak dan 36 Dewasa Terdampak Tersebar di 8 Rumah Sakit
Advertisement . Scroll to see content

331 Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, 199 Pasien Dirawat Inap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:42 WIB
  • author Riant Subekti
331 Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, 199 Pasien Dirawat Inap
RS Sumber Kasih Salah satu dari 8 rumah sakit yang menangani pasien dugaan keracunan MBG di Kota Cirebon. Foto : Riant Subekti

CIREBON, iNewsCirebon.id– Jumlah warga yang terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon, Jawa Barat, terus bertambah. Hingga Kamis (22/10/2026), tercatat sebanyak 331 orang mengalami gangguan kesehatan, dengan 199 orang di antaranya menjalani rawat inap.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, mengatakan penanganan para korban dilakukan secara terpadu di delapan rumah sakit, satu klinik, dan dua puskesmas. Selain memastikan pasien memperoleh perawatan medis, petugas juga melakukan langkah antisipasi untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah korban.

Dari total korban tersebut, sebanyak 121 orang menjalani rawat jalan. Sementara itu, penyebab pasti kejadian masih dalam penyelidikan, termasuk melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel yang telah dikumpulkan petugas.

Sop Telur Puyuh Dikeluhkan Berasa Asam

Dalam penelusuran awal, menu sop telur puyuh menjadi salah satu makanan yang banyak dikeluhkan korban. Sejumlah pasien mengaku kuah sop tersebut memiliki rasa asam. Bahkan, seorang guru dilaporkan mengalami diare setelah mencicipi kuah makanan itu, meskipun tidak memakan telur puyuhnya.

Guru tersebut sempat mengingatkan para siswa agar tidak mengonsumsi makanan setelah merasakan kejanggalan pada rasanya. Meski demikian, Dinas Kesehatan belum menyimpulkan bahwa sop telur puyuh menjadi sumber penyebab dugaan keracunan.

Untuk memastikan penyebabnya, petugas telah mengambil sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sampel muntahan pasien dari RS Siloam, serta sampel tinja pasien dari RS Ciremai. Seluruh sampel dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Siti Maria menyebutkan, hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui paling cepat dalam 14 hari. Pemeriksaan awal terhadap sejumlah pasien juga menemukan peningkatan sel darah putih atau leukositosis. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Editor: Rebecca

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut