Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Update Korban Keracunan MBG Cirebon: 228 Anak dan 36 Dewasa Terdampak Tersebar di 8 Rumah Sakit
Advertisement . Scroll to see content

Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG di Cirebon, Heru Subagia Desak Evaluasi Total

Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:43 WIB
  • author Riant Subekti
Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG di Cirebon, Heru Subagia Desak Evaluasi Total
Ratusan siswa dan guru di Kalijaga, Harjamukti, Kota Cirebon harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit usai menyantap menu MBG. Foto : Riant Subekti

CIREBON, iNewsCirebon.id– Sekitar 100 anak, terdiri atas siswa sekolah dasar (SD), taman kanak-kanak (TK), serta penerima manfaat di posyandu, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Selasa (20/10/2026). Para korban mendapatkan penanganan medis di empat rumah sakit, yakni RS Siloam Putera Bahagia, RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, dan RS Cahaya Bunda. Sejumlah korban mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Sementara itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut dihentikan sementara untuk kepentingan penanganan dan evaluasi.

Penggagas Parlemen Bayangan Indonesia, Heru Subagia, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang kembali menimpa anak-anak penerima manfaat program MBG tersebut. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keselamatan anak-anak sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap program strategis nasional.

Heru mengaku turun langsung memantau kondisi korban di sejumlah rumah sakit. Ia juga mengamati proses pelayanan medis, termasuk kesiapan fasilitas, ketersediaan obat-obatan, penanganan pasien anak, serta koordinasi antarpihak dalam menghadapi lonjakan pasien.

“Peristiwa ini sangat memprihatinkan. Ketika anak-anak mengalami kondisi darurat setelah mengonsumsi MBG, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai persoalan administrasi justru menghambat kecepatan penanganan medis,” ujar Heru.

Ia menyoroti pengalaman keluarga korban saat membawa anak mereka ke rumah sakit. Menurutnya, proses administrasi seperti kelengkapan kartu identitas dan dokumen keluarga perlu dievaluasi agar tidak menjadi hambatan ketika terjadi kondisi darurat yang melibatkan banyak pasien, khususnya anak-anak.

Heru mengakui, dari hasil pemantauannya, terdapat rumah sakit yang mampu memberikan penanganan secara cepat dengan dukungan fasilitas dan obat-obatan yang memadai. Namun, ia juga menemukan adanya penumpukan pasien di salah satu rumah sakit akibat banyaknya korban yang datang dalam waktu berdekatan.

Editor: Rebecca

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut