get app
inews
Aa Text
Read Next : Rebo Wekasan, Keraton Kasepuhan Cirebon Gelar Curak Sedekah Tolak Bala

Rebo Wekasan di Cirebon: Tradisi Apem, Sedekah, dan Doa yang Terus Hidup

Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:59 WIB
header img
Advokat muda Cirebon, Waswin Janata, SH maknai Rebo wekasan sebagai sedekah dan doa yang terus hidup. Foto : Riant Subekti

CIEREBON, iNewsCirebon.id — Setiap datang penghujung bulan Safar dalam penanggalan Hijriah, sebagian masyarakat Cirebon kembali menghidupkan sebuah tradisi yang telah diwariskan lintas generasi: Rebo Wekasan, atau Rabu terakhir pada bulan Safar.

Pada tahun ini, Rebo Wekasan bertepatan dengan Rabu, 12 Agustus 2026. Bagi sebagian masyarakat Cirebon, hari tersebut bukan sekadar penanda berakhirnya bulan Safar. Ia menjadi ruang untuk berkumpul, berdoa, bersedekah, berbagi makanan, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan keagamaan dan kearifan lokal yang diwariskan para orang tua dan ulama terdahulu.


Tradisi curakan direbo wekasan

Salah seorang warga Cirebon yang hingga kini masih menjaga tradisi tersebut adalah Waswin Janata, SH, advokat muda Cirebon. Baginya, Rebo Wekasan tidak semestinya dipahami semata-mata sebagai hari yang dikaitkan dengan kesialan atau ketakutan.

Justru, tradisi itu menurutnya dapat dimaknai sebagai momentum untuk memperbanyak doa, introspeksi, sedekah dan mempererat hubungan sosial dengan sesama.

Waswin memiliki pengalaman personal yang membuat Rebo Wekasan mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupannya. Beberapa tahun lalu, tepat pada malam Rebo Wekasan, ia mendampingi istrinya yang sedang menjalani proses persalinan di rumah sakit.

Sebelum malam tiba, ia bersama keluarga sempat membuat apem untuk dibagikan kepada warga. Tradisi sederhana itu kemudian menjadi kenangan yang terus melekat karena pada malam harinya, sekitar pukul 23.00 WIB, sang istri melahirkan anak mereka.

Pengalaman tersebut membuat Waswin semakin melihat Rebo Wekasan bukan sebagai hari yang harus ditakuti.

"Saya justru melihat Rebo Wekasan sebagai momentum untuk bersyukur. Ada doa, ada sedekah, ada berbagi dan ada kebersamaan. Pengalaman ketika anak saya lahir pada malam Rebo Wekasan menjadi pengingat bagi saya bahwa sebuah hari tidak seharusnya dimaknai dengan ketakutan," tutur Waswin.

Apem dan Makna Berbagi

Dalam tradisi masyarakat Cirebon, apem mempunyai tempat penting. Kue berbahan dasar tepung beras tersebut bukan hanya makanan yang disajikan dalam kegiatan tradisi, tetapi menjadi simbol berbagi dan sedekah.

Warga biasanya membuat apem dalam jumlah tertentu untuk kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar. Bersamaan dengan itu, sebagian warga juga menyiapkan nasi berkat untuk dibagikan.

Bagi Waswin, nilai utama dari tradisi tersebut bukan terletak pada makanan semata, melainkan pada pesan sosial yang terkandung di dalamnya.

Ada ajakan untuk memperhatikan orang-orang di sekitar, mengetuk pintu tetangga, berbagi rezeki dan menghilangkan jarak antarwarga.

"Kalau kita lihat dari sisi budaya, apem itu menjadi media untuk berbagi. Ada pesan agar kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga melihat kanan-kiri, melihat tetangga dan orang-orang yang membutuhkan," katanya.

Editor : Rebecca

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut