Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tidak Sesuai Standar dan Kotor, BGN Setop 833 Dapur MBG
Advertisement . Scroll to see content

Kepala BGN Ungkap Fakta Memprihatinkan: 116 Juta Penduduk Indonesia Kurang Kalori

Rabu, 29 Juli 2026 | 16:34 WIB
  • author Yuwantoro Winduajie
Kepala BGN Ungkap Fakta Memprihatinkan: 116 Juta Penduduk Indonesia Kurang Kalori
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Foto: Dok

 

JAKARTA, iNewsCirebon.id  - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap fakta memprihatinkan terkait kondisi gizi masyarakat Tanah Air. Sebanyak 116 juta penduduk Indonesia atau sekitar 40 persen dari total populasi masih mengalami kekurangan asupan kalori dan protein harian.

Sudaryono menjelaskan, kelompok masyarakat yang terdampak berada pada kuintil 1 dan kuintil 2, di mana jumlah asupan makanan yang mereka konsumsi lebih kecil dibandingkan kebutuhan energi untuk beraktivitas sehari-hari.

"Sebanyak kurang lebih 40 persen penduduk Indonesia yang berada di kuintil 1 dan kuintil 2 itu mengalami kekurangan kalori dan protein. Mohon maaf kasarannya kurang makan," ungkap Sudaryono di Kantor BGN, Jakarta Pusat.

Ia menambahkan bahwa temuan berbasis data Kementerian Kesehatan ini menjadi realita pahit yang harus segera ditangani.

"Ini menyedihkan tapi ini realita yang juga harus kita hadapi bahwa 40 persen itu kira-kira 116 juta. 116 juta orang kita itu kemudian kurang makan atau kasarannya lapar. Jadi yang dimakan lebih sedikit daripada aktivitas dia," tegasnya.

Fokus Intervensi Daerah Stunting Tinggi

Kondisi tingginya angka masyarakat yang kekurangan gizi tersebut menjadi pendorong utama pentingnya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN kini tengah merancang langkah intervensi terarah, khususnya pada daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi.

Merujuk pada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), terdapat 220 kabupaten/kota berkategori stunting tinggi dan 92 kabupaten/kota berkategori sangat tinggi. Sementara sisanya, 182 daerah berkategori sedang dan 20 daerah berkategori terendah.

"Kita sedang mempersiapkan diri untuk bagaimana kita bisa mengintervensi langsung memberikan gizi yang pas, yang sesuai, yang dibutuhkan khususnya di daerah-daerah yang memang angka stuntingnya tinggi dan sangat tinggi," jelas Sudaryono.

Integrasi Data NIK dan Evaluasi Cek Kesehatan Gratis

Guna memastikan program tepat sasaran, BGN akan memanfaatkan data terintegrasi berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terhubung langsung dengan data kesehatan. Sistem ini memungkinkan pemerintah memantau kondisi penerima manfaat, mulai dari balita, anak sekolah, hingga ibu hamil.

Untuk mengukur efektivitasnya, BGN mengusulkan adanya evaluasi berkala melalui program Cek Kesehatan Gratis. Pengecekan ini ditargetkan berlangsung lebih dari satu kali agar perkembangan kondisi kesehatan fisik penerima bantuan dapat terpantau dengan akurat.

"Outcome-nya bagaimana? Anak-anak yang tadinya stunting tidak stunting. Yang tadinya sakit jadi sehat. Yang tadinya kurus underweight bisa jadi normal dan se

Editor: Vitrianda Hilba Siregar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut