get app
inews
Aa Text
Read Next : Dari Donor Darah hingga Renovasi Rumah: Polres Cirebon Kota Tunjukkan Dedikasi di HUT Bhayangkara

Amuk Massa di Jakarta Menjadi Bukti Bahwa Polri Sedang Mengalami Krisis Kepercayaan dari Masyarakat

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 11:59 WIB
header img
Gelombang protes massa yang terus menjalar hingga ke penyerangan ke beberapa kantor polisi di Jakarta di Polda Meto Jaya, Markas Brimob Kwitang Jakarta dan beberapa kantor Polisi di daerah bahkan Polres Jakarta Pusat juga ikut dibakar  Sabtu pagi(30/8/2025). Foto: ist

Sebab, Polri bisa diganti pimpinannya, tapi kepercayaan rakyat yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan. Namun, saat ini juga Kapolri harus membaca situasi ini secara sosiologis, masyarakat tidak hanya kecewa, bahkan marah pada sebuah insiden pemicu kejadian protes dan demonya komponen masyarakat.

"Tetapi ini sebab akibat akumulasi rasa ketidakadilan, ketimpangan, dan kekecewaan terhadap aparat penegak hukum dan ulah oknum penyelenggara negara. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar pengamanan represif, melainkan kepemimpinan yang berani mengambil tanggung jawab moral di hadapan rakyat," tukasnya.

Dalam tradisi kenegarawanan, kata Azmi, keberanian seorang pemimpin diukur bukan hanya dari kemampuannya bertahan, tetapi juga dari kesediaannya mundur bila itu menjadi jalan terbaik untuk memulihkan kepercayaan publik.

Oleh karena itu, menyikapinya, pilihan ada di tangan Presiden dan Kapolri apakah melakukan reset kepemimpinan Kapolri atau menghadirkan strategi baru yang lebih manusiawi, transparan, dan akuntabel. 

Kapolri punya pilihan untuk kesediaannya mundur secara sukarela,  bila itu menjadi jalan terbaik untuk memulihkan kepercayaan publik. 

Oleh karena itu, pilihan ada di tangan Presiden dan Kapolri, harus segera mengambil sikap, apakah melakukan reset kepemimpinan, atau menghadirkan strategi baru yang lebih manusiawi, transparan, dan akuntabel dan berkomunikasi dengan masyarakat.
 
Yang jelas, Kalau kantor polisi dan markas Brimob saja gagal dijaga, maka yang runtuh bukan hanya tembok institusi, melainkan fondasi keamanan negara. Dan bila fondasi keamanan itu goyah akan berdampak pada kepercayaan rakyat kepada pemerintah akan hilang. 

"Inilah titik paling berbahaya, ketika rakyat tidak lagi percaya, negara bukan hanya menghadapi kerusuhan di jalanan, tapi ancaman delegitimasi yang dapat  mengguncang keberlangsungan kekuasaan itu sendiri,” pungkasnya.

Editor : Miftahudin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut