Rebo Wekasan di Cirebon: Tradisi Apem, Sedekah, dan Doa yang Terus Hidup

Riant Subekti
Advokat muda Cirebon, Waswin Janata, SH maknai Rebo wekasan sebagai sedekah dan doa yang terus hidup. Foto : Riant Subekti

Selain berbagi makanan, di sejumlah wilayah Cirebon juga dikenal tradisi curak, yakni membagikan uang atau uang receh kepada masyarakat. Tradisi tersebut menjadi bentuk kegembiraan sekaligus sedekah yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Antara Tradisi, Doa dan Kearifan Lokal

Rebo Wekasan juga kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari zikir, doa bersama, pembacaan Yasin, salat hajat hingga kegiatan ziarah ke makam ulama dan leluhur.

Bagi masyarakat yang menjalankannya, rangkaian tersebut merupakan bentuk ikhtiar spiritual sekaligus ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Namun, Waswin menilai penting bagi generasi muda untuk memahami tradisi secara bijak. Tradisi leluhur tidak cukup hanya dipertahankan secara seremonial, tetapi harus dipahami nilai dan pesan moral yang ada di dalamnya.

Menurut dia, salah satu pesan yang kuat dalam tradisi Rebo Wekasan adalah sedekah dan kepedulian sosial.

"Tradisi itu jangan hanya dilihat sebagai sesuatu yang mistis. Kita bisa mengambil nilai positifnya. Ada doa, ada sedekah, ada silaturahmi dan ada kepedulian kepada sesama. Itu yang menurut saya perlu diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.

Dalam kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat Cirebon, tradisi berbagi pada Rebo Wekasan juga kerap dikaitkan dengan ajaran para wali, termasuk Sunan Gunung Jati. Terlepas dari beragam versi sejarah dan cerita tutur yang berkembang, masyarakat tetap mempertahankan esensi sosialnya melalui kegiatan berbagi dan doa.

Warisan Budaya yang Tak Sekadar Ritual

Bagi Cirebon, Rebo Wekasan merupakan bagian dari kekayaan budaya yang mempertemukan unsur agama, tradisi lokal dan kehidupan sosial masyarakat.

Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu membangun ruang kebersamaan melalui hal-hal sederhana: membuat makanan, berkumpul, berdoa, berziarah dan membagikan rezeki.

Di tengah perubahan zaman, nilai semacam itu justru menjadi semakin relevan.

Waswin yang berprofesi sebagai advokat muda melihat tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas kultural masyarakat Cirebon yang patut dirawat dengan pemahaman yang lebih kontekstual.

Ia berharap generasi muda tidak sekadar mengetahui bahwa Rebo Wekasan adalah tradisi yang diwariskan leluhur, tetapi mampu menggali nilai di baliknya.

"Yang harus diwariskan bukan hanya apemnya, bukan hanya acaranya, tetapi semangat berbagi, sedekah, berdoa dan menjaga hubungan dengan sesama. Kalau nilai itu tetap hidup, maka tradisinya juga akan tetap hidup," tutur Waswin.

Rabu, 12 Agustus 2026, menjadi salah satu hari ketika tradisi tersebut kembali berdenyut di sejumlah pelosok Cirebon.

Di balik apem yang dibagikan dari tangan ke tangan, nasi berkat yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain, serta doa-doa yang dipanjatkan bersama, tersimpan sebuah pesan sederhana: tradisi tidak hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana nilai kebaikan diwariskan untuk masa depan.

Editor : Rebecca

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network