Dari Pawai Budaya, PORSENITAS, hingga Pesta Rakyat Depan Balai Kota pada Hari Jadi Cirebon ke 599
Ia menegaskan bahwa prestasi sesungguhnya tidak hanya diukur dari banyaknya medali.
"Prestasi yang sesungguhnya adalah bergeraknya roda ekonomi masyarakat secara riil," tuturnya.
Selama rangkaian Hari Jadi, kawasan Balai Kota Cirebon berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Ribuan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan berbagai hiburan, pameran, pertunjukan seni, dan kegiatan UMKM.
Para pedagang kecil, pelaku kuliner, dan usaha mikro memperoleh dampak ekonomi langsung dari meningkatnya kunjungan masyarakat.
Balai Kota yang biasanya menjadi pusat pemerintahan berubah menjadi ruang publik yang hidup dan penuh interaksi.
Puncak rangkaian Hari Jadi Kota Cirebon ke-599 ditutup dengan konser musik rakyat di depan Balai Kota.
Ribuan masyarakat dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu hingga Brebes memadati kawasan tersebut.
Suasana penuh kegembiraan terlihat sepanjang malam. Lampu panggung, alunan musik, serta antusiasme warga menjadi simbol bahwa Hari Jadi bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh masyarakat.
Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang publik mampu menjadi tempat bertemunya budaya, ekonomi, hiburan, dan kebersamaan.
Di usia ke-599, Kota Cirebon tidak hanya merayakan sejarah panjangnya, tetapi juga memperlihatkan arah masa depannya.
Kolaborasi antardaerah melalui KUNCI BERSAMA, penguatan UMKM, pelestarian budaya, pengembangan olahraga, serta partisipasi masyarakat menjadi fondasi pembangunan kawasan.
Sebagai tindak lanjut, PORSENITAS XIV dan Pameran Produk Unggulan Daerah KUNCI BERSAMA tahun berikutnya disepakati akan dilaksanakan di Kabupaten Cirebon.
Hari Jadi Cirebon ke-599 akhirnya bukan sekadar peringatan usia kota. Ia menjadi ruang persatuan, kolaborasi, dan harapan menuju Cirebon yang semakin maju menjelang usia enam abad pada tahun mendatang.
Editor: Rebecca