Membongkar Misteri Kutukan Mumi Mesir Kuno dan Kematian Misterius Firaun Tutankhamun, Ini Faktanya

Mery
.
Rabu, 23 November 2022 | 10:35 WIB
Membongkar misteri kutukan mumi Mesir kuno dan kematian misterius Firaun Tut. Foto: Okezone

JAKARTA, iNewsCirebon.id - Kutukan Mumi di Mesir menjadi suatu misteri tersendiri bagi arkeolog, terlebih salah satu yang paling terkenal adalah kutukan Raja Tut.

Melansir dari SindoNews, Rabu (23/11/2022), makam Raja Tutankhamun ditemukan pada tahun 1922 oleh para arkeolog dan mereka melakukan sejumlah penelitian dengan pendanaan utama berasal dari George Herbert, Earl of Carnarvon kelima di Inggris.

Tak lama berselang, pada tahun 1923 Carnarvon meninggal dunia dan kabarnya tersebar luas karena dianggap sebagai kematian yang misterius. Hal inilah yang memicu isu kutukan Firaun tersebut.

Pada halaman utama surat kabar The Courier Journal edisi 21 Maret 1923 yang diterbitkan di Louisville, Kentucky, memuat headline "Kutukan Firaun 3.000 tahun Terlihat dalam Penyakit Carnarvons".

Kematian Carnarvon dilaporkan sudah tidak sehat sebelum tiba di Kairo. Dia menderita infeksi yang dilaporkan akibat kecelakaan bercukur ketika memotong bekas gigitan nyamuk. Laporan itu juga mengabarkan istrinya, Almina Herbert, jatuh sakit tetapi sembuh dan hidup hingga 93 tahun dan meninggal pada tahun 1969.

Kebenaran isu kutukan mumi itu langsung dipelajari oleh para ilmuwan. Mereka meneliti mengenai patogen apa yang berumur panjang sehingga menyebabkan "kutukan".

Para ilmuwan menggunakan penelitian dengan pendekatan pemodelan matematika dalam menentukan berapa lama patogen dapat bertahan hidup di dalam makam.

Berdasarkan jurnal Proceedings dari Royal Society B: Ilmu Biologi yang diterbitkan pada tahun 1996 dan 1998 menyebutkan "Memang, kematian misterius Lord Carnarvon setelah memasuki makam firaun Mesir Tutankhamun berpotensi dijelaskan oleh infeksi patogen yang sangat mematikan dan berumur sangat panjang," tulis Sylvain Gandon dalam artikel jurnal tahun 1998.

Gandon merupakan seorang peneliti di Universitas Pierre dan Marie Curie di Paris ketika makalah itu diterbitkan.

Namun, ada jurnal International Biodeterioration & Biodegradation yang publish pada tahun 2013 justru membantah penelitian tersebut.

Dalam jurnalnya menyebutkan, penelitian pada bintik-bintik coklat di makam Tutankhamun menemukan bahwa "organisme yang menciptakan bintik-bintik itu tidak aktif," tulis tim peneliti dalam jurnal tersebut.

Halaman : 1 2 3
Bagikan Artikel Ini