Pesona Desa Jagara Kuningan, Surga Wisata di Tepian Waduk Darma

Riant Subekti
Pesona Desa Jagara, Darma yang menghadap waduk darma kuningan menjadi saya tarik wisata dan kekuatan ekonomi warga sekitar. (Foto : Riant Subekti / iNewsCirebon.id).

KUNINGAN, iNewsCirebon.id – Pemandangan Waduk Darma yang membentang luas menjadi panorama yang pertama kali menyambut wisatawan ketika memasuki Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Namun, Jagara kini bukan sekadar desa yang berada di tepian waduk. Kawasan ini perlahan berubah menjadi sebuah ekosistem wisata yang menggabungkan panorama alam, wisata air, kuliner, UMKM, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perubahan tersebut dirintis melalui BUMDes Mekar Jaya Desa Jagara yang mulai dibentuk pada 23 November 2022. Dari awalnya belum memiliki usaha yang dikembangkan secara optimal, BUMDes kemudian diarahkan untuk mengelola potensi desa berbasis pariwisata.

Direktur Utama BUMDes Mekar Jaya Jagara, Sofyan yang akrab disapa Kang Oyon, mengatakan gagasan pengembangan desa wisata berangkat dari potensi alam yang sudah dimiliki Jagara, terutama keberadaannya sebagai desa penyangga kawasan Waduk Darma.

“Kami melihat di Jagara sudah ada potensi Waduk Darma. Dari situlah menjadi cikal bakal pemikiran kami untuk mengembangkan BUMDes, terutama memanfaatkan potensi desa,” ujar Oyon,Rabu (23/9/2026)

Menurutnya, pengembangan desa wisata tidak semata-mata ditujukan untuk mendatangkan wisatawan. Lebih jauh, konsep tersebut dirancang agar masyarakat setempat ikut merasakan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan asli desa.

Dari Potensi Desa Menjadi Mesin Ekonomi Warga

Sejak 2023, BUMDes Mekar Jaya mulai menyusun konsep pengembangan usaha dengan menggali berbagai potensi yang ada di Desa Jagara.

Keterbatasan modal tidak menjadi penghalang. BUMDes memilih membangun pola kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perbankan dan masyarakat lokal.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah melibatkan warga sebagai investor lokal. Pola tersebut kemudian berkembang menjadi ekosistem usaha yang melibatkan masyarakat dalam berbagai aktivitas pariwisata.

Kini, kawasan Desa Wisata Jagara tidak hanya menawarkan satu objek wisata. Sejumlah titik dikembangkan dengan konsep berbeda tetapi saling terhubung.

Di antaranya pengelolaan kawasan wisata Waduk Darma melalui kolaborasi dengan PT Jaswita Jabar, kawasan Jagara Eco Park, pasar kreatif yang menjadi ruang usaha UMKM warga, Taman Desa Jagara, serta berbagai aktivitas wisata air dan rekreasi.

Keberadaan Jagara Eco Park sendiri turut memperkuat daya tarik kawasan. Sejumlah publikasi wisata menyebut lokasi tersebut menawarkan panorama langsung ke Waduk Darma dan Gunung Ciremai, dilengkapi area kuliner, playground, kabin, hingga berbagai wahana rekreasi. 

Artinya, wisatawan yang datang tidak hanya membelanjakan uang di dalam satu objek wisata. Aktivitas ekonomi menyebar kepada pedagang, pemilik perahu, pelaku UMKM, pengelola wahana hingga masyarakat yang menyediakan jasa pendukung wisata.

Pasar Kreatif, Ruang UMKM Warga

Salah satu bagian yang menarik dari konsep Desa Wisata Jagara adalah keberadaan pasar kreatif.

Kios-kios usaha masyarakat berjajar di sepanjang jalur kawasan wisata, mulai dari pintu gerbang Desa Jagara hingga menuju kawasan wisata di sekitar Waduk Darma.

Konsep tersebut membuat perjalanan wisatawan tidak hanya berorientasi pada tujuan akhir. Sepanjang perjalanan, mereka dapat menemukan kuliner dan produk UMKM yang dikelola masyarakat.

Tak Hanya Wisata, Ada Ekonomi Perikanan

Potensi Jagara ternyata tidak berhenti pada sektor pariwisata.

Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengatakan Desa Jagara dipilih sebagai lokasi pengembangan Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) karena memiliki potensi ekonomi masyarakat yang beragam.

Selain UMKM dan pariwisata, terdapat masyarakat yang bergerak di sektor perikanan, khususnya usaha tambak atau keramba di kawasan Waduk Darma.

Menurut Agus, terdapat sekitar 230 pelaku usaha tambak, namun sebagian di antaranya masih menghadapi persoalan akses permodalan.

Karena itu, OJK mendorong agar masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap pembiayaan, tetapi juga memahami produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melibatkan perbankan, BPR, Pegadaian, PNM hingga lembaga keuangan mikro.

OJK juga mendorong digitalisasi UMKM melalui transaksi pembayaran menggunakan QRIS, pengembangan agen layanan keuangan di desa, serta pembukaan rekening Simpanan Pelajar (SimPel) bagi anak-anak sekolah.

Selain itu, terdapat rencana pengembangan tabungan emas melalui Pegadaian serta pemanfaatan program pengelolaan sampah sebagai bagian dari inklusi keuangan masyarakat.

Dari Rp24 Juta Modal, Kontribusi PADes Terus Tumbuh

Transformasi Jagara juga terlihat dari kontribusi BUMDes terhadap pendapatan asli desa.

Oyon menjelaskan, ketika dirinya mulai dipercaya memimpin BUMDes pada 2023, penyertaan modal desa tercatat sekitar Rp24 juta.

Dari pengelolaan usaha yang dilakukan, BUMDes mampu memberikan kontribusi kepada desa sebesar Rp69 juta pada 2023.

Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi Rp128 juta pada 2024.

Pada 2025, kontribusi BUMDes melonjak menjadi sekitar Rp588 juta.

Sementara pada 2026, BUMDes mendapatkan target kontribusi sebesar Rp680 juta untuk pendapatan asli desa. Bahkan pada 2027 mendatang, target tersebut diproyeksikan mencapai Rp1 miliar.

Editor : Rebecca

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network