Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tak Hanya Begal, KDM Diminta Pengamat Cirebon Perluas Sayembara untuk Memburu Koruptor
Advertisement . Scroll to see content

Buku “Islam Ala Prabowo” Jadi Sorotan, Pengamat: Jangan Reduksi Kepemimpinan dari Simbol Agama

Rabu, 09 September 2026 | 20:01 WIB
  • author Riant Subekti
Buku “Islam Ala Prabowo” Jadi Sorotan, Pengamat: Jangan Reduksi Kepemimpinan dari Simbol Agama
Pengamat Politik Heru Subagia. Foto : Riant Subekti

CIREBON, iNewsCirebon.id– Buku yang mengangkat tema Islam dalam sosok Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perbincangan. Narasi tersebut memunculkan perdebatan di tengah masyarakat, terutama soal apakah agama sedang dijadikan instrumen politik atau justru menggambarkan sisi spiritual seorang pemimpin negara.

Pengamat politik Heru Subagia melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, terlalu sederhana jika kemunculan buku dan narasi Islam yang dikaitkan dengan Prabowo langsung dianggap sebagai strategi propaganda politik.

“Tidak mungkin seorang Prabowo dengan buku Islam menjadikan dirinya sungguh-sungguh sebagai sosok yang ingin mengkoperasi keseluruhan Islam untuk kepentingan politik semata,” kata Heru, Rabu (9/9/2026).

Heru justru menduga isu agama yang diarahkan kepada Prabowo tidak terlepas dari dinamika politik. Ia menilai terdapat konstruksi opini yang berkembang untuk menyerang Prabowo melalui isu keagamaan.

“Saya melihat memang ini ada rekayasa yang organik bagaimana Prabowo diserang dengan agama. Asumsi saya, ini muncul mungkin akibat kalah dalam pencalonan sehingga pada akhirnya muncul fenomena buku Islam yang wajib dibicarakan,” ujarnya.

Menurut Heru, penggunaan isu agama dalam pertarungan politik bukan fenomena baru di Indonesia. Agama kerap ditempatkan sebagai simbol yang dapat membangun citra sekaligus menjadi amunisi untuk menyerang pihak tertentu.

Namun, ia meminta masyarakat tidak berhenti pada perdebatan mengenai simbol. Menurutnya, kepemimpinan Prabowo lebih penting dinilai dari gagasan, kebijakan, serta nilai yang dibawa dalam menjalankan tanggung jawab sebagai kepala negara.

Heru berpandangan, nilai-nilai Islam dapat menjadi bagian dari dimensi spiritual seorang pemimpin tanpa harus ditempatkan sebagai instrumen politik. Nilai agama, nasionalisme, dan tanggung jawab terhadap negara dinilai dapat berjalan beriringan.

“Di situlah nilai-nilai Islam itu hadir, bukan sebagai alat, melainkan sebagai pelengkap dalam kepemimpinan,” tuturnya.

Ia menilai polemik mengenai “Islam ala Prabowo” sekaligus menunjukkan bahwa isu agama masih memiliki pengaruh kuat dalam percakapan politik nasional. Karena itu, publik dinilai perlu lebih kritis membedakan antara substansi kepemimpinan dan sekadar pertarungan narasi.

“Islam ala Prabowo bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari perjalanan seorang negarawan,” pungkas Heru.

Editor: Rebecca

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut