Menjelma Jadi CEO Tangguh, Maudy Ayunda Tampil Elegan Pimpin Forum Riset di Bandung
BANDUNG, iNewsCirebon.id – Mengenakan setelan blazer abu-abu berpadu kemeja putih, Maudy Ayunda tampil anggun dan elegan saat menyambut para akademisi, peneliti, dan pelaku industri yang hadir. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai rapi, memancarkan kesan sederhana namun berkelas. Melalui gestur yang hangat dan cara berbicara yang tenang, Maudy menunjukkan ketegasan peran strategisnya sebagai co-founder sekaligus CEO From This Island, perusahaan skin care yang didirikannya.
Dalam forum yang digelar awal Juli 2026 di Bandung tersebut, Maudy tampak cermat menyimak pemaparan ilmiah dan menanggapinya dengan pertanyaan yang berbobot. Momen ini sekaligus menandai babak baru kolaborasi riset perusahaannya bersama Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah ruang diskusi, ia juga ikut turun langsung melihat proses pengembangan teknologi berbasis bahan alam Indonesia bersama para peneliti guna membahas peluang hilirisasi inovasi ke dunia industri.
Karakter kepemimpinan yang kuat ini dibentuk oleh latar belakang pendidikannya yang mumpuni. Maudy merupakan lulusan program Philosophy, Politics and Economics di University of Oxford, Inggris, sebelum akhirnya meraih gelar Master of Business Administration dari Stanford Graduate School of Business, Amerika Serikat. Kombinasi ilmu tersebut membentuk cara berpikirnya yang sistematis dan berbasis data dalam memimpin perusahaan.
Komitmen riset tersebut diwujudkan nyata melalui kerja sama strategis antara From This Island, Sekolah Farmasi ITB, dan EBM SciTech yang telah dirintis sejak 2023. Selama lebih dari dua tahun, ketiga pihak sukses mengembangkan PolyAcNix, sebuah konsentrat bioaktif berbahan Tamanu Oil asal Sulawesi yang dirancang lewat pendekatan ilmiah untuk melawan bakteri penyebab jerawat sekaligus mendukung regenerasi kulit. Penelitian ini bahkan tengah dipersiapkan menuju publikasi ilmiah internasional di bidang kosmetik dan dermatologi.
Dekan Sekolah Farmasi ITB, Diky Mudhakir, memberikan apresiasi tinggi dan menilai kerja sama ini sebagai contoh ideal bagaimana riset kampus bisa diadopsi oleh dunia industri.
"Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendorong hilirisasi hasil riset, sehingga inovasi yang lahir di laboratorium dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia," ujarnya.
Bagi Maudy, langkah ini merupakan bagian dari visi besarnya untuk membawa kekayaan botanikal asli Indonesia ke kancah internasional lewat fondasi sains yang kuat.
"Kami percaya masa depan industri kecantikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan mengubahnya menjadi inovasi berbasis riset. Karena itu, kami memilih memulai dari laboratorium. PolyAcNix merupakan hasil kolaborasi bersama Sekolah Farmasi ITB dan EBM SciTech sekaligus langkah awal kami membangun intellectual property yang berasal dari Indonesia dan mampu bersaing di tingkat global," kata Maudy.
Sebagai implementasi awal dari riset ini, diluncurkanlah produk Tamanu Acne Defense Serum dan Tamanu Rapid Acne Spot Treatment. Untuk varian serum, PolyAcNix dikombinasikan dengan Smart AI Peptide, 2 persen Salicylic Acid, Panthenol, dan Madecassoside yang sudah lolos uji dermatologis, ramah kulit sensitif, serta bersertifikasi halal dan vegan.
Berdasarkan data uji klinis, serum ini berhasil mengurangi jerawat meradang pada 81 persen subjek setelah 14 hari pemakaian, dengan uji laboratorium mencatat penurunan tampak pori hingga 86,8 persen. Sementara itu, varian Spot Treatment juga terbukti efektif menekan kemerahan dan minyak berlebih, dengan 88 persen subjek merasakan kondisi jerawat yang membaik. Lewat proyek ini, Maudy membuktikan bahwa kepemimpinan bisnis tak sekadar soal strategi pasar, melainkan keberanian menjadikan riset ilmiah sebagai pilar inovasi lokal.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar