Lima Tahun Kapolri Dinilai Terlalu Lama, Ahmad Bahar Kupas Kritik Tajam dalam Buku Terbarunya
CIREBON, iNewsCirebon.id – Penulis dan pengamat isu kepolisian, Ahmad Bahar, meluncurkan buku terbarunya berjudul Raport Merah Sang Jenderal: Listyo Sigit Prabowo, Buku tersebut memuat kritik terbuka terhadap arah kepemimpinan kPolri di bawah Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Dalam pemaparannya, Ahmad Bahar menyoroti masa jabatan Kapolri yang telah memasuki tahun kelima. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lazim dalam tradisi institusi kepolisian dan berisiko menghambat proses regenerasi kepemimpinan di tubuh Korps Bhayangkara.
Ia menilai, terlalu lamanya satu figur menduduki pucuk pimpinan justru menutup ruang bagi perwira tinggi lain yang memiliki rekam jejak dan prestasi untuk tampil memimpin. Situasi ini, kata Bahar, berpotensi memperlambat pembenahan internal Polri.
“Ketika kekuasaan terlalu lama berada di satu tangan, regenerasi akan macet. Dampaknya bukan hanya ke organisasi, tapi juga ke kualitas pelayanan publik. Ini saya kupas secara rinci dalam buku,” ujar Ahmad Bahar saat berada di Kota Cirebon, Selasa (10/2/2026).
Buku tersebut juga mengulas kritik terhadap implementasi reformasi kepolisian yang dinilai belum menyentuh akar persoalan. Ahmad Bahar menyinggung masih maraknya praktik kriminalisasi hukum serta penegakan hukum yang dianggap tidak rasional.
Ia mencontohkan sebuah kasus di Sleman yang menurutnya menunjukkan lemahnya logika hukum dalam proses penetapan tersangka. Selain itu, jargon Presisi yang selama ini menjadi simbol reformasi Polri disebut belum tercermin secara nyata di lapangan.
Menurut Bahar, berbagai praktik lama seperti budaya setoran hingga fenomena “No Viral No Justice” masih menjadi keluhan publik. Ia bahkan mengaku pernah mengalami langsung lambannya penanganan laporan kepolisian sebelum kasus tersebut mendapat perhatian di media sosial.
Melalui buku ini, Ahmad Bahar berharap masyarakat memiliki pemahaman yang lebih kritis dan berani terhadap institusi kepolisian. Ia mendorong publik untuk tidak takut menghadapi proses hukum dan berani menyuarakan ketidakadilan.
“Tujuan buku ini sederhana, agar masyarakat cerdas melihat polisi secara objektif. Jangan takut menghadapi aparat, jangan takut bersuara, dan jangan takut memperjuangkan keadilan,” tegasnya.
Ahmad Bahar dikenal konsisten mengangkat isu kepolisian. Ia mengaku telah menulis sekitar 15 buku yang mengulas kepemimpinan jenderal-jenderal polisi sejak era Kapolri Timur Pradopo.
Editor : Rebecca